jump to navigation

Perjalanan 3 Anak Manusia, Bagian 4: Akhirnya Datang Juga… October 26, 2008

Posted by biasasajalah in jalan-jalan, kesenangan.
Tags: , , ,
trackback

14 Oktober 2008 Jam 16.45, setelah mengarungi perjalanan selama hampir 6 jam, sampai juga kami di Pantai Santolo. Walaupun begitu, perjalanan terasa menyenangkan dan tidak terasa melelahkan. Cuma Rio yang sempat tidur bentar akibat serangan mabuk darat. Dan perjalanan panjang itu pun terbayar…

Sore itu pantai relatif sepi. Pasir pantai yang berwarna coklat muda banget (biege?), bersih, garis pantai yang panjang, dengan deburan ombak yang besar. Pantainya sendiri cukup lebar. Lautnya berwarna biru. Di kejauhan nampak deburan umbak yang lebih besar. Mungkin karena pantai terletak di cekungan maka ombaknya sedikit berkurang kekuatannya.

kaya gini loh, kalo dlilihat dari atas

kaya gini loh, kalo dlilihat dari atas

Santolo... Aku datang...

Santolo... Aku datang...

Kami bejalan menyusuri pantai, semakin jauh kita berjalan, semakin bersih pantainya, dan akhirnya hanya ada kami bertiga di pantai itu setelah berjalan menyusuri pantai sejauh kira-kira 500m. Kami menikmati indahnya pantai, suasana sunset, dengan angin pantai yang menyegarkan dan iringan deburan ombak…

sunset
The Sunset

The Sunset

Kami menikmati indahnya Pantai Santolo hingga  jam 7 malam. Sayangnya sore itu mendung tiba-tiba datang, jadi suasana sunset tidak bisa dinikmati secara maksimal. Karena mendung pula kerlip bintang di malam hari juga kurang terlihat. Tapi purnama malam itu masih terlihat jelas. Bulan bersinar cerah kekuningan dengan bercak-bercak di permukaannya, sungguh indah…

Perut kami mulai keroncongan, kami pun memutuskan untuk mencari penginapan, mandi, dan makan malam. Setelah menyusuri jalanan di Kota Kecamatan Pameungpeuk, kami memutuskan singgah di ANB Resort Hotel – Swimming Pool (Jln. Cilauteureun No. 38 Pameungpeuk). Setelah tawar menawar didapat tarif kamar Rp. 225.000 semalam untuk kamar dengan 2 single bed, kamar mandi dengan shower, AC, TV, dan breeakfast.

Setelah mandi, lapar makin menjadi. Namun, menu yang disediakan hotel nampak kurang meyakinkan. Goreng ayam kampung diinggriskan menjadi “Fried Local Chicken” ???? Relatif mahal juga, biasa, harga hotel. Ya sudah, kita memutuskan cari makan di luar, sekalian melihat-lihat suasana Pameungpeuk. Namun, dicari-cari ternyata pilihan makanannya sedikit. Kami memutuskan makan nasi goreng saja setelah melihat spanduk yang cukup menarik “Nasi Goreng Kebuli”.

Warung Pak Maskum (kiri, belakang tiang telpon)

Warung Pak Maskum (kiri, belakang tiang telpon)

Kami masuk ke warung nasi goreng Maskum. Penilik warung, yang kami asumsikan namanya Maskum, menyapa dengan ramah, lalu memberikan daftar menu kepada kami. Warung sederhana, dengan pilihan menu nasi goreng sunda, nasi goreng kebuli, dan nasi goreng jawa. Tapi setelah melihat daftar menunya, kami mulai bingung. Tak ada penjelasan tentang menunya. Kami pun bertanya pada Pak Maskum tentang menunya. Setelah mendapatkan penjelasan yang relatif membingungkan tentang selera masyarakat Pameungpeuk dan kesederhanaan, didapatkan kesimpulan bahwa nasi goreng sunda itu pake petai, nasi goreng kebuli itu pakai mie, dan nasi goreng jawa itu biasa aja. Sudah cukup pusing kami, liat daftar menu lagi kok malah bingung. Harganya ada 2 macam. Setelah kami tanya ternyata harga di kolom kiri itu harga lama, sedangkan di kolom kanan itu harga baru. Hah? Bisa gitu yah? Harga baru lebih mahal 1000 dari harga lama.

Sembari menunggu pak Maskum masak nasi gorengnya, kami baca-baca lagi daftar menunya. Ada yang unik disini.

Menerima masakan dengan berbagai selera dan cara masak:

  • Tanpa kuah, sedikit kuah, banyak kuah
  • Selera tinggi, sedang dan sederhana
  • Tidak pedas, pedas

Apa yah maksudnya?

Akhirnya, nasi goreng kami datang. Ternyata rasanya memang benar-benar sederhana! Seperti apa yang dibilang Pak Maskum sebelumnya. Rasanya bener-bener cuma nasi digorang pakai vetsin, garam, dan saus tomat. Ditambah sedikit telur dadar di atasnya. Bah, tapi dasar emang laper banget, ya dimakan aja. Kata Zack susah banget ditelannya. Pas lagi makan itu, ada bapak-bapak gitu beli nasi goreng juga. Oleh Pak Maskum diberi daftar menu yang satu lagi, kayanya ketikan edisi sebelumnya. Sempet gue baca juga menunya, nah yang ini lebih aneh lagi.

Menerima masakan dengan berbagai selera dan cara masak:

  • Tanpa kuah, sedikit kuah, banyak kuah
  • Selera : hambar, biasa, enneg
  • Tidak pedas, pedas

Hah????? Apa lagi ini?

Yah, ya sudah, kami cepet-cepet aja makannya. Setelah selesai makan, kami mampir di Indomaret, terus pulang ke hotel. Dengan mulut yang masih beraroma vetsin yang bikin enneg…

Kami beristirahat di hotel malam itu, besok paginya harus cepat bangun, kami mengejar sunrise di Pantai Sayang Heulang.

Foto-foto lengkapnya dapat dilihat di sini, sini, dan sini.

Comments»

No comments yet — be the first.