Perjalanan 3 Anak Manusia, Bagian 3: WOOOOW!!!!! October 24, 2008
Posted by biasasajalah in jalan-jalan, kesenangan.Tags: kebun teh, keindahan alam, Pameungpeuk, pantai, Santolo
trackback
14 Oktober 2008 Setelah perut terisi penuh di Ampera Garut (kayanya satu-satunya Ampera nih di Garut), kita bertiga berjalan menuju Mesjid Agung Garut, yang jaraknya sekitar 100m ke arah barat. Banyak pedagang kaki lima di sepanjang trotoar. Jualannya macem-macem, mulai dari buah-buahan sampe VCD (bajakan). Setelah shalat di Mesjid Agung Garut, kita bergegas kembali ke mobil. Nah, terjadi sebuah keunikan di sini. Satu diantara para pedagang kaki lima di trotoar, berjualan kolor (daleman). Pas kita jalan melewati lapaknya, sang Bapak Penjual Kolor diam saja, namun beberapa langkah kemudian di belakang kami, lewatlah mbak-mbak yang langsung diteriakin sama sang Bapak Penjual Kolor, “Neng, kolor Neng!! Neng, kolor Neng!!” Buset dah, frontal bener jualannya… Sempat mampir ke lapak kentang arab buat cemilan di jalan bentar, kita berangkat dari Garut jam 13.47.
Sepanjang perjalanan kita terus-terusan dikejutkan dengan pemandangan indah nan mengagumkan… Sawah, perkebunan teh, hutan belantara, gunung, lembah, jurang, tebing, dan sungai bergantian menyapa. Sungguh mengagumkan… Ternyata nggak perlu pergi ke Bali, apalagi ke luar negeri kalo pengen ngeliat keindahan alam Indonesia. Di Kabupaten Garut juga ada.
Sayang kita memburu waktu sunset di Pantai Santolo, jadi gak sempet berhenti buat menikmati kesejukan udara dan hijaunya pemandangan. Yang kita bisa cuma nurunin kaca jendela, dan emang bener, udaranya segar bebas polusi. Indahnya…
Perjalanan terasa sangat menyenangkan sampai akhirnya gue kebelet pipis! Sial, gue lupa pipis di Garut, pas
lagi berhenti ishoma. Berhubung lagi di hutan dengan jalan berliku, maka keinginan itu harus ditahan. Dengan harapan bakal nemu mesjid buat numpang toilet. Ditunggu-tunggu, mesjid tak juga muncul, mau berhenti di warung, males kalo disuruh beli. Akhirnya menyerah, hasrat ini tak tertahankan lagi. Mobil pun perlahan menepi. dan gue pipis di bawah pohon. Rada serem juga, berhubung di hutan lebat. Tapi ya udah, Bismillah aja. Ah, lega… Setelah stretching bentar, kita semua masuk mobil lagi. Eh, sial… Ternyata gak lama jalan, sekitar 5 menit udah sampe di kampung-kampung, dan buanyak mesjid dan musholanya. Hampir setiap 100m ada… Tau gitu sabar dikit tadi.
Perjalanan terus berlanjut. Tetap diiringi dengan ketakjuban akan keindahan alam yang dilewati. Jalan yang pada awalnya berliku tajam dan menanjak perlahan mulai melurus dan melandai, walau masih diiringi tikingan-tikungan s yang cukup tricky karena pandangan terhalang bukit.
Sekali lagi kejutan yang cukup “Wow” bagi kami, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul truk. Awalnya gue kira di bagian depannya digambarin ikan. Makin mendekat, makin nampak jelas, bahwa yang dikira gambar ikan itu bukan gambar, tapi ikan benern. Ya, ikan kakap merah (red snapper) sepanjang lebih dari 1m tergantung di bagian depan truk. Menjulur mulai dari batas bawah kaca depan sampai di bumper. Sayang tidak sempat diabadikan dengan foto. Tapi kayanya gue baru ngeliat ikan kakap merah terbesar dalam hidup gue. Zack langsung saja berangan buat ke pelelangan ikan besok paginya, beli ikan yang segede itu, diiket di atas mobilnya, trus dibuat barbeque-an bareng temen-temen di Bandung…
Sekitar jam 4 sore, kita sampai di Kota Kecamatan Pameungpeuk. Tapi kita belum yakin juga sebenernya, pantai yang mana yang kita tuju. Apakah Pantai Santolo atau Sayang Heulang. Kita melewati Pameungpeuk untuk langsung menuju pantai. Awalnya ke arah Sayang Heulang, namun setelah dipikirkan dengan algorima-navigasi-otak-nya Zack, maka kita putar haluan ke Pantai Santolo. Tapi karena belum yakin, belokan ke arah Santolo pun kita abaikan, dengan harapan menemukan pantai lain yang lebih oke.
Tiba-tiba di kejauhan terlihat deburan ombak yang tinggi. “Wooo, itu lautnya!!!”, gue berteriak kegirangan. Akhirnya kita sudah hampir sampai. Tapi jalan yang terus kita susuri tak juga menampakkan belokan ke pantai. Malah pantai terus berada di samping kiri kita, dengan dibatasi pagar. Sesekali ada rumah-rumah penduduk. Akhirnya kita memutuskan untuk ke Pantai Santolo saja.
Foto-foto selengkapnya dapat dilihat di sini, sini, dan sini.




wah, ada ya jualan kolor di jalan. nawarinnya cuma ke mbak2nya doank pula.
hehe…